Alasan Camat Dlanggu Larang Lagu Yalal Wathon: Identik dengan Golongan Tertentu


Kegiatan APDI Jatim di Kec. Dlanggu, Kab. Mojokerto-instagram @apdi_mojokerto-

INFO MOJOKERTO - Camat Dlanggu, Kabupaten Mojokerto, Samsul Bahri menjelaskan alasannya melarang lagu Yalal Wathon dinyanyikan pada sebuah acara.

Melansir dari TIMESIndonesia.co.id, hal ini terungkap ketika Samsul mengucapkan permohonan maaf kepada publik.

Menurut Samsul jika lagu Yalal Wathon (Sabbanul Wathon) merupakan lagu yang identik dengan golongan tertentu, yakni Partai Kebangkitan Bangsa (Pkb).

(BACA JUGA:5 Makanan Oleh-oleh Khas Mojokerto yang Nikmat dan Bikin Ketagihan)

“Karena bagaimanapun juga Yalal Wathon masih identik, permisi meskipun ini kan proses menjadi lagu nasional, tapi identik dengan golongan tertentu. PKB,” ungkap Samsul seperti yang dikutip dari TIMESIndonesia.co.id, Jumat (22/07).

Samsul menganggap kegitan tersebut didukung oleh PKB dikarenakan menghadirkan Ayni Zuroh selaku ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PKB Kabupaten Mojokerto.

“Karena support kegiatan kemarin dari PKB. Makanya saya mencontohkan, kalua misal ada partai lain apakah harus (lagu itu red), karena yang support kemarin PKB," kata Samsul.

(BACA JUGA:Kembali Berulah! KKB Tembak 12 Orang di Nduga Papua, Seorang Ustaz Tewas Tertembak)

Sebelumnya, Samsul melarang Tenaga Pendamping Profesional (TPP) Kabupaten Mojokerto melantunkan lagu Yalal Wathon dalam acara Asosiasi Pendamping Desa Indonesia (APDI) Jawa Timur.

Ketika itu, Apdi Jatim menyelenggarakan kegiatan Peningkatan Kapasitas Mandiri (PKM), di mana para TPP sedang berkumpul.

Acara tersebut bertempat di Gedung Serbaguna BUMDes Desa Pohkecik, Kecematan Dlanggu. Dalam acara tersebut  para peserta melantunkan lagu Yalal Wathon setelah menyenyikan Indonesia Raya.

(BACA JUGA:Wajib Dicoba! Rekomendasi 5 Tempat Makan di Mojokerto yang Menggugah Selera)

Kemudian, Samsul selaku camat Dlanggu melarang TPP mengumandangkan lagu Yalal Wathon dalam acara tersebut.

Samsul menjelaskan saat itu pihaknya belum memperoleh pemberitahuan diadakannya kegiatan APBI Jatim di Gedung Serbaguna BUMDes Pohkecik.

“Kami melihat ada kegiatan, sehingga kami mampir ke Balai Desa untuk konfirmasi tentang kegiatan apa? Karena kami tidak pernah menerima pemberitahuan kegiatan dimaksud,” ujar Samsul, Rabu (20/07).

(BACA JUGA:Update! Jumlah Penduduk Indonesia Naik 2 Juta Jiwa, Simak Penjelasannya di Sini!)

Kemudian, Samsul berinisiatif melakukan konfirmasi ke Kapolsek mengenai kegiatan tersebut.

“Selanjutnya kami konfirmasi ke Kapolsek, apakah ada pemberitahuan tentang kegiatan dimaksud dan Kapolseke menyatakan tidak ada pemberitahuan,” tambah Camat Dlanggu.

Samsul memberikan seruan kepada pendamping kecamatan supaya ada pemberitahuan untuk proses pengamanan di acara tersebut.

(BACA JUGA:1.145 Hewan Ternak di Mojokerto Sembuh dari PMK, Begini Penjelasan Kepala Dinas Pertanian)

Samsul juga mengakui jika dirinya sempat mengutarakan untuk tidak menyanyikan lagi Yalal Wathon agar independensi pendamping desa masih terjaga.

Camat Dlanggun ini berpendapat jika lagu tersebut memiliki motif potilik dan sebagai TPP seharusnya independent serta tidak boleh memiliki motif politik tertentu.

Samsul mengakui sempat terdapat perdebatan antara Ia dan beberapa pihak APDI Jatim di Kantor Kepala Desa Pohkecik.

(BACA JUGA:Kantong Kosong Tapi Ingin Liburan ? Maha Vihara Mojopahit, Ada Budha Tidor loh, Wisata Religius yang Tak Banyak Menguras Kantong Cocok untuk Anda yang Sedang Bokek)

Dalam kesempatan yang berbeda, Koordinator Tpp Kabupaten Mojokerto, Agus Riza Hizfani, menanggapi pernyataan dari Samsul terkait adanya dukungan dari PKB dalam acara yang diselenggarakan oleh APDI Jatim.

Riza mengklarifikasi hal tersebut jika kegitan yang dilaksanakan di Gedung Serbaguna BUMDes Pohkecik adalah agenda APDI Jatim.

Pihak penyelenggara mengundang Ayni Zuroh bukan sebagai ketua PKB, namun selaku Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD).

(BACA JUGA:Perlu Diketahui! Contoh Kata Persuasif dalam Kalimat, Lengkap dengan Pengertian, Ciri-ciri, dan Jenis)

“Kami mengundang Ketua DRP bukan atas nama sebagai ketua partai, tapi atas nama ketua DPR,” terang Riza.

Riza menjelaskan jika kegiatan tersebut murni menggunakan dana dari APDI Jatim dan tidak menggunakan uang negara.

“Acara itu adalah acara APDI Jawa Timur. APDI ini tidak memakai anggaran negara, tapi iuran seluruh Tenaga Pendamping Profesional (TPP) se Provinsi Jawa Timur,” kata Riza.

Selain itu, Riza juga menanggapi mengenai persoalan lagu Yalal Wathon karya KH. Abdul Wahab Chasbullah itu bukan milik sebagian golongan tertentu.

(BACA JUGA:Pecinta Sejarah Wajib Tahu ! Inilah 5 Rekomendasi Candi Bersejarah di Kota Mojokerto yang Wajib Anda Kunjungi, Candi Tikus Salah Satunya!)

“Yalal Wathon tidak lagi milik satu atau dua organisasi masyarakat. Itu sudah menjadi milik bangsa,” terang Riza.

Camat Dlanggu pun telah menyampaikan permintaan maafnya atas peristiwa yang terjadi.

“Kami memohon maaf kalua saran ini dianggap memasuki isu sensitif. Kami berniat baik untuk mengamankan kegiatan, malah terjadi kesalahpahaman,” ujar Samsul.

(IM)

`
Kategori : Mojokerto Update