Kenali Lagu Ya Lal Wathon yang Jadi Polemik Camat Dlanggu di Mojokerto


Kegiatan APDI Jatim di Kec. Dlanggu, Kab. Mojokerto-instagram @apdi_mojokerto-

INFO Mojokerto Camat Dlanggu Mojokerto, Samsul Bahri menganggap Lagu Ya Lal Wathon (Shubbanul Wathon) yang dinyanyikan dalam kegiatan Peningkatan Kapasitas Mandiri (PKM) Tenaga Pendamping Profesional (TPP) Kabupaten Mojokerto oleh Asosiasi Pegiat Desa Indonesia (APDI) Jawa Timur pada Selasa (19/7)  memiliki motif politik.

Pendapat Samsul Bahri mengenai lagu Ya Lal Wathon tersebut memicu amarah TPP Jawa Timur, Maulana Solehodin serta berniat membawa permasalahan ini ke ranah hukum.

Usai pendapatnya menjadi polemik, Camat Dlanggu, Kabupaten Mojokerto mengakui kesalahannya serta mengatakan hal tersebut adalah kesalahpahaman.

Mengenal lagu Ya Lal Wathon

Melansir dari NU Online, lagu Ya Lal Wathon berawal dari masa muda Kiai Abdul Wahab Chasbullah atau sekitar tahun 1914. Abdul Wahab ingin mendirikan organisasi.

Abdul Wahab Chasbullah berhasil mendirikan Nahdlatul Wathan pada tahun 1916 dengan bantuan beberapa tokoh lain dan ia menjabatsebagai pimpinan Dewan Guru (keulamaan).

(BACA JUGA:Alasan Camat Dlanggu Larang Lagu Yalal Wathon: Identik dengan Golongan Tertentu)

Nahdlatul Wathan merupakan markas penggemblengan pemuda yang mendidik agar menjadi berilmu dan cinta tanah air.

Para pemuda wajib menyanyikan lagu Ya Lal Wathon (perjuangan cinta tanah air) dalam bahasa Arab ciptaan Abdul Wahab sebelum melakukan kegiatan belajar.

Ya Lal Wathon biasa dikenal juga dengan sebutan Syubbanul Wathan (pemuda cinta tanah air). Lagu ini menjadi populer di kalangan pesantren dan kegiatan Nahdlatul Ulama (NU).

Benih cinta tanah air berubah menjadi energi positif rakyat Indonesia yang tengah berjuang melawan penjajah.

Abdul Wahab terus berusaha dan memiliki semangat nasionalisme tinggi sehingga mewujudkan wadah pendidikan serta melahirkan organisasi seperti Tashwirul Afkar pada 1919.

Untuk membangun semangat nasionalisme, Abdul Wahab mengikuti berbagai organisasi pemuda, antara lain Indonesische StudieClub, Syubbanul Wathan, dan kursus Masail Diniyyah.

(BACA JUGA:DPC PKB Angkat Suara Terkait Camat Kabupaten Mojokerto yang Melarang Nyanyikan Lagu Yalal Wathon)

Saat ini, lagu Ya Lal Wathon telah terdaftar, memiliki legalitas Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI)serta tengah diupayakan menjadi lagu Nasional.

Ketua APDI Mojokerto, Mujianto menjelaskan bahwa menyanyikan lagu Ya Lal Wathon saat kegiatan APVI merupakan hal yang biasa karena APDI ingin menyerap semangat perjuangan Abdul Wahab.

(IM)

`
Kategori : Mojokerto Update